Skip to main content

Prioritas

Assalamu'alaykum, hari ini suasana hatiku lg gak karuan... ditambah lagi kejadian kurang mengenakan malam tadi.

Aku jd teringat, mungkin senior ku di pwt lg kecewa sm aku. Karena aku gabisa membantu dia di saat2 penting kaya gini. Aku harus memilih antara keluarga dan rutinitas di pwt. Lalu setelah menimbang2 kondisi aku memilih untuk tetap berdiam di sini di bdg. Memprioritaskan org2 yg sempat kutinggal sementara.

Banyaak org2 bertanya, knp sih hei kmu lebih suka di bdg? Nganggur ya kmu di sana? Dan nth knp aku selalu susah menjelaskan kpd org2 klo aku memang hrs di sini. Krn saat itu aku adalah prioritas mrk (keluargaku). Tapi, baru saja td aku mulai meragukan prioritasku kali ini. Dari obrolanku sama mama yg membuatkan kesal ditambah teman2 ku yg dkt slama ini ga ngabarin sesuatu yg menurutku penting. Aku bukannya ingin menjadi yg slalu di prioritaskan, tp aku merasa dilupakan, bukankah selama ini aku memilih kalian menjadi prioritasku? Ah, lagi-lagi aku berharap pd harapan yg salah. Aku berharap pd manusia, brhrp ia melakukan hal apa yg aku lakukan untuknya. 

Sungguh berada pada waktu yg amat luang adalah sebuah jebakan dasyat, yg dpt mengeraskan hati, memunculkan harapan yg berlebih. tapi dipikir2 lagi, gimana pun juga mereka layak diprioritskan. Mereka bagian dr hidupku kok, yg menguatkan aku. Mungkin ini sebuah penyadaran dr Allah, lagi-lagi berharaplah kepada Allah, hal sekecil apapun itu. Karena Allah takkan mengecewakanmu secuil apapun.


NB : Buat mas Ijal, aku merasa bersalah bgt sama mas. Maafkan aku y mas, udah bikin kesel mas. Semoga mas Ijal sm mas Didi lancar ukmppdnya.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Menjadi Tim Vaksinator

  Assalamu’alaykum, sangat terasa ternyata 4 bulan pertama di tanah perantauan, dengan suasana berbeda, teman berbeda, dan fasilitas yang jauh berbeda. Menjalani kehidupan sebagai nakes di masa pandemic ini juga menjadi tantangan bagi kami selama pengabdian, khususnya saya yang mau tidak mau harus menjadi salah satu anggota dari tim vaksinator yang ditunjuk sebagai petugas skrining. Ternyata melakukan skrining adalah hal yang sulit di daerah ini. Saya menemukan banyak sekali sasaran yang tidak mau disuntik alih-alih sedang sakit, sesak, atau penyakit maagnya kambuh. Menyikapi berbagai macam sasaran yang menyebalkan sangat membuat saya kewalahan. Belum lagi, 3 bulan yang lalu saya harus menghadapi sasaran manja yang hampir saja merusak nama baik puskesmas. Sampai sekarang saya berfikir, apa saya terlalu galak? Terlalu lembek? Atau memang bodoh? Tidak saya pungkiri, merasa lebih mengetahui keadaan sasaran dari pada sasaran sering kali muncul, namun perasaan ragu takut dan kasian ...

Mencoba hidup sehat versi Heidi 2

Setelah 1 tahun menjadi vegan dengan cheating day ku sehari setiap minggu. Aku akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi manusia omnivora, alasannya karena ditempat ku tinggal sekarang, jenis sayuran sangat terbatas dan sulit untukku memenuhi kebutuhan gizi ku. Anyways aku akan tulis tentang beberapa penelitian mengenai vegetarian di next tulisan blog ku. Oiya, vegetarian dan vegan itu beda ya. Vegetarian adalah hanya makanan sayur (plant-based) dan tidak makan hewani, contoh daging ayam, sapi, ikan tapi masih mengonsumsi makanan-makanan yang asalnya dari hewani, contoh telur, susu, keju, madu. Nah kalau vegan tidak mengonmsi makanan jenis apapun yang berasal dari hewani. Kesimpulanya vegan hanya makan sayur dan buah-buahnya saja.  Kalau aku sendiri pengalaman jadi vegan itu benar-benar mendetok tubuhku. Nafsu makan sama makan-makanan receh pun berkurang dratis setelah memutuskan jadi vegan. Tapi, berat badan bukan lagi jadi tujuan utama. Karena kalau fokus sama BB kita hanya fokus...

Setelah 1 Tahun Menjadi Residen

 Ternyata yang sulit itu bukan menjadi paling baik, menjadi si paling ambis atau menjadi si paling rajin Yang sulit itu menjadi si paling biasa-biasa aja, si paling istiqomah Menjadi residen, menjadi mark dalam kehidupanku, ternyata kehidupan yang menurutku sulit selama di Muna Barat tidak jauh lebih berat dari kehidupan residen yang 3 bulan pertama kuhabiskan dengan menangis. Pulang malam, berangkat pagi, tekanan dari senior, tuntutan tim stase, juga tuntutan diri untuk tidak dianggap jelek menjadi makanan sehari-hari. Pernah dicap si tukang jawab atau dibilang lamban. Ada senior yang tampak suka dengan ku, ada juga yang anti dengan ku. Ada yang sabar dan ngajarin, ada yang maunya semuanya selesai tanpa membantu sekali. Ada stase yang menyenangkan seperti delsuite 1A ku, ada stase yang meninggalkan memori buruk, tapi ada stase yang mengalir begitu saja. Ada teman stase yang sangat suportif, menjadi teman menangis, teman menyemangati, saling mengingatkan sholat dan istiqomah sepert...