Skip to main content

yeah, I lost hmm.. something or someone?

Mungkin aku haru menyalahkan Fifi, karena aku sedikit bertambah "mellow" akibat efek jangka pendek dari film yang aku dan Fifi tonton, yah yg pastinya Fifi yang ngajak. Entah kenapa aku menjadi semakin, galau..

Malam ini, aku baru menyadari banyak hal, kehilangan banyak hal. Entah kenapa, aku merasakannya sangat-sangat menyakitkan. Aku bukan romantis, bukan orang yang bisa menunjukkan kalau aku sayang sama sesuatu, yap mungkin aku satu-satunya anak kosan yang selalu susah buat diajak hangout bareng, jarang beresin rumah, atau selalu pergi berkeliaran. Aku juga bukan sahabat yang bisa selalu ada, sms kadang lupa dijawab, bbm sama line grup yang cuman di read doang. Tapi, kalau mmang kami harus terpisahkan, maka aku satu-satunya yang duluan merasa kehilangan..

Aku benci namanya perpisahan, aku benci mengingat tawa, canda, atau ejekan-ejekan yang selalu kita lakukan setiap malam sambil menonton tv. Aku benci mengingat baunya sampah yang aku bereskan, benci menginat ketika salah satu dari mereka meletakkan kepalanya di pundakku, aku benci mengingat semuanya harus berakhir, Dan yang paling aku benci adalah ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku juga benci ketika kita tidak berbicara selayaknya hari-hari yang lalu, ketika candaan yang kita mainkan terasa hambar dan tidak tulus, aku benci kalau harus mengingat semua perjalanan kita, aku benci ketika harus melihat foto-foto kita, aku benci ketika kita duduk berempat seperti biasanya, tapi hanya formalitas belaka..

Haduh, rasanya aku ingin teriak pada kalian semua, betapa aku merasa kehilangan kalian, kawan!


Orang yang merasa kehilangan
John Green, The Fault in our Stars

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Menjadi Tim Vaksinator

  Assalamu’alaykum, sangat terasa ternyata 4 bulan pertama di tanah perantauan, dengan suasana berbeda, teman berbeda, dan fasilitas yang jauh berbeda. Menjalani kehidupan sebagai nakes di masa pandemic ini juga menjadi tantangan bagi kami selama pengabdian, khususnya saya yang mau tidak mau harus menjadi salah satu anggota dari tim vaksinator yang ditunjuk sebagai petugas skrining. Ternyata melakukan skrining adalah hal yang sulit di daerah ini. Saya menemukan banyak sekali sasaran yang tidak mau disuntik alih-alih sedang sakit, sesak, atau penyakit maagnya kambuh. Menyikapi berbagai macam sasaran yang menyebalkan sangat membuat saya kewalahan. Belum lagi, 3 bulan yang lalu saya harus menghadapi sasaran manja yang hampir saja merusak nama baik puskesmas. Sampai sekarang saya berfikir, apa saya terlalu galak? Terlalu lembek? Atau memang bodoh? Tidak saya pungkiri, merasa lebih mengetahui keadaan sasaran dari pada sasaran sering kali muncul, namun perasaan ragu takut dan kasian ...

Mencoba hidup sehat versi Heidi 2

Setelah 1 tahun menjadi vegan dengan cheating day ku sehari setiap minggu. Aku akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi manusia omnivora, alasannya karena ditempat ku tinggal sekarang, jenis sayuran sangat terbatas dan sulit untukku memenuhi kebutuhan gizi ku. Anyways aku akan tulis tentang beberapa penelitian mengenai vegetarian di next tulisan blog ku. Oiya, vegetarian dan vegan itu beda ya. Vegetarian adalah hanya makanan sayur (plant-based) dan tidak makan hewani, contoh daging ayam, sapi, ikan tapi masih mengonsumsi makanan-makanan yang asalnya dari hewani, contoh telur, susu, keju, madu. Nah kalau vegan tidak mengonmsi makanan jenis apapun yang berasal dari hewani. Kesimpulanya vegan hanya makan sayur dan buah-buahnya saja.  Kalau aku sendiri pengalaman jadi vegan itu benar-benar mendetok tubuhku. Nafsu makan sama makan-makanan receh pun berkurang dratis setelah memutuskan jadi vegan. Tapi, berat badan bukan lagi jadi tujuan utama. Karena kalau fokus sama BB kita hanya fokus...

Belajar dari dr. Yusuf

Assalamu'alaykum, hari ini sy akan bercerita tentang petualang *cielah* seorang dokter kecil yang sebut saja Dewi. Kenapa dokter kecil? karena dia terlalu dini untuk di sebut dr Muda dan terlalu biasa aja klo dibilang mahasiswa. SO, jadi gini ceritanya.. Di suatu hari yang cerah, Dewi ini mendapatkan sms dari salah satu seniornya untuk membantu salah satu dokter yang terkenal di desa *ups* kota Purwokerto tercinta. Awalnya, dia pikir ga ikut aja, karena sms dari seniornya itu sudah beberapa jam yang lalu. Namun, telepon ketiga dari seniornya ini membuat dia bertekad bulat untuk bantuin dokter itu. Beberapa jam kemudian, Dewi ini sudah siap dengan tas ransel berisi makanan siang dan menunggu seniornya, sebut saja Mas Sholih untuk segera dijemput ke klinik dokter tersebut. Sebenernya, Dewi ini sedikit males pergi ke sana, melihat motor yang digunakan Mas Sholih ini jenis motor yang besar *entah sebutan kerennya apa* jadi dia harus bersusah payah untuk naik dengan posisi du...